Teman- teman Postingan ku kali ini akan membahas Sesuatu dalam bidang kedokteran. Kalian Pernah merasa Mulut kalian terasa terbakar kagak? kalian berfikir apa saya tadi mkan api ato sejenisnya. hehe. untuk postingan kali ini aku ingin membagi kapada temen2 semua tugas yang sudah saya selesaikan. ini adalah makalah untuk mata kuliah OM atau disebut oral medicine atau dalam bahasa indonesia penyakit mulut. well, biar kagak lama, pidato saya singkat saja. untuk temen-temen yang sedang mencari materi ini semoga bermanfaat, dan kalo ada yang kurang jelas bisa di tanyakan. santai saja. anggap rumah sendiri. salam dari DIARIeku.

Sindroma mulut Terbakar (SMT) atau disebut oral dysesthesia merupakan istilah yang digunakan jika terjadi suatu sensasi terbakar dimana  di mulut tidak ditemukannya faktor etiologi yang berperan dan secara medis merupakan symptom yang belum bisa dijelaskan dengan pasti.

Gejala dengan karakteristik rasa sakit dan rasa terbakar pada salah satu atau beberapa struktur rongga mulut dengan atau tanpa perubaban klinis baik di rongga mulut maupun dibagian tubuh lain. Secara umum keluhan tersebut menyulitkan para klinisi dalam mendiagnosa dan melakukan perawatan terutama bila tidak dijumpai perubahan klinis dirongga mulut selain disebabkan faktor etiologinya yang multifaktor

“Penyebab Dari Burning Mouth syndrome”

Dari beberapa penelitian ditemukan bahwa penyebab BMS adalah multifaktor. Terdapat 2 kelompok besar faktor penyebab BMS yaitu fakto lokal dan faktor sistemik

Faktor Lokal

1. Kontak Alergi

Reaksi alergi lokal oleh (Lamey) dkk dikatakan sebagai salah satu penyebab BMS. (Kaaber) dkk melakukan pemeriksaan terhadap 53 orang pemakai gigi tiruan dengan hasil patch test epikutan yang positif terhadap bahan gigi tiruan. Substansi pada bahan gigi tiruan dapat menyebakan alergi. Contohnya antara lain Monomeric methyl metacrylate, epoxy resin, bisphenol A dan bahan akrilik dari merek-merek tertentu. Hubungan semntara antara rasa panas dan pemakaian gigi tiruan, eritema yang menyebar pada membrane mukosa yang berkontak adalah merupakan cirri khas. Sebaliknya alergi yang berhubungan dengan makanan mempunyai ciri khas rasa panas yang intermiten, tidak adanya tanda-tanda obyektif dari inflamasi dan rasa panas yang menyeluruh pada rongga mulut. Bahan-bahan yang tercatat sebagai allergen antara lain sorbic acid, nicotinic acid, propylene glycol dan bahan tambahan pada kopi instant. Sebagai tambahan pada suatu kasus yang dilaporkan, terjadi reaksi alergi terhadap tambalan amalgam yang mengandung merkuri. Diagnosa ini dengan hasil patch test yang positif dan hilangnya keluhan dengan menyingkirkan alergen.

2. Gigi Tiruan

Beberapa kelainan dan lesi pada mukosa dihubungkan dengan pemakaian gigi tiruan. (Ali) dkk menemukan 22 pasien BMS yang berhubungan dengan pemakaian gigi tiruan. Dari 46% keluhan pasien tampaknya berhubungan langsung dengan gigi tiruan yaitu 23% alergi terhadap monomer methyl methacrylate, 18% terhadap high residual monomer level, 5% karena gigi tiruan yang kurang baik yaitu dalam hal stabilitas, kecekatan dan oklusinya. (Main dan Basker) menemukan bahwa kurang lebih 50% pasien BMS terutama disebabkan oleh kesalahan dalam design gigi tiruan. indikasi bahwa gigi tiruan penyebab BMS adalah hubungan sementara dari rasa panas dengan pemakaian gigi tiruan dan lokasi rasa panas pada jaringan di bawah gigi tiruan.

3. Infeksi

Beberapa penelitian menemukan C. albicans   merupakan factor penyebab BMS. zegarelli mendiagnosa moniliasis pada sepertiga dari pasiennya. Lamey dan Lamb melaporkan frevalensi yang lebih rendah (6%). penyebab ini dibuktikan oleh kultur positif dari kerokan lidah dan berkurangnya keluhan dengan terapi antifungal. Infeksi kandida di rongga mulut merupakan oportunistik dan beberapa factor penunjang antara lain xerostomia, terapi steroid, GTP rahang atas,DM, Anemia pernisiosa.

Katz dkk menemukan infeksi fusospirochaeta pada pasien BMS yang ompong. Adanya infeksi oleh bakteri anaerob ini dibuktikan dengan kultur dan penurunan keluhan pada pemberian metronidazole.

4. Xerostomia

Keluhan rasa panas kemugkinan berkaitan dengan kuragnya saliva (xerostomia) yang disebabkan oleh kelainan pada salivary centre, kelainan fungsi kelenjar saliva, perubahan keseimbangan cairan atau elektrolit dan kelainan fungsi kelenjar saliva, perubahan keseimbangan cairan atau elektrolit dan kelainan yang mengganggu jalan keluar saliva. Main dan Basker menemukan xerostomia pada 8% pasien BMS sebagai efek samping obat. Bahn mendapatkan bahwa obat-obatan tersebut berupa tricyclic anti depressants, turunan benzodiazepine dan antihistamines.

Glick dkk. menunjukkan perbedaan bermakna dalam konsentrasi protein, potassium dan phosphate dari unstimulated saliva penderita BMS dengan kelompok control.

Penyebab lainReflux oesophageal dapat menyebabkan iritasi pada mukosa mulut sehingga timbul rasa panas. Hal ini dikuatkan oleh Howden yang menemukan erosi pada bagian palatal gigi rahang atas.

Gorsky melaporkan bahwa geographic tongue terdapat pada 15% – 31% dari penderita BMS. Ferguson dkk melaporkan bahwa rasa panas dalam mulut merupakan gambaran klinis yang biasa timbul pada acoustic nerve neuroma .Pada keadaan ini diperlukan test audiometri dan CTscan untuk menentukan diagnose.

5. Angiodema

Pada penderita angiodema terdapat gejala dan indikasi seperti BMS. Setiap bagian tubuh tersebut merasakan sakit dan sensasi terbakar.. Biasanya, penyakit ini mempengaruhi kelopak mata, lidah, bibir, telapak tangan, telapak kaki, tenggorokan, dan yang mengejutkan adalah beberapa kejadian di alat kelamin.

6. neouralgia Trigeminal

Secara harfiah, Neuralgia Trigeminal berarti nyeri pada nervus Trigeminus, yang menghantarkan rasa nyeri terbesar. Dicirikan dengan suatu nyeri yang muncul mendadak, berat, seperti sengatan listrik, atau nyeri yang menusuk-nusuk, biasanya pada satu sisi rahang atau pipi

7. oral Habit

Mendorong lidah ke depan dan bruxism dapat memberi rasa terbakar di mulut karena kurangnya aliran saliva akibat kebiasaan buruk tersebut.

8. Iritasi Mulut yang berlebihan

Mungkin karena hasil menyikat lidah secara berlebihan atu mengomsumsi minuman yang terlalu banyak mengandung asam.

Faktor sistemik yang dapat menyebabkan BMS antara lain adalah defisiensi vitamin dan mineral,gangguan hormonal dan imunologi,efek samping obat.

– Faktor Sistemik

  1. Psikogenik

Dwarkin menyatakan tampaknya factor psikologik dan psikososial memainkan peranan penting pada rasa sakit di orofasial tetapi hanya beberapa penelitian yang menggunakan metode psikometrik yang obyektif untuk mendapatkan status psikologis pasien antara lain (Lamb) dkk yang menggunakan Catell’s 16 PF Questionare, Lamey dan Lamb menggunakan Hospital Anxiety & Depression Scale. (Grushka) dkk menggunakan Multiphasic Personality Inventory. (Rojo) dkk melakukan pengamatan psikiatrik pada 74 pasien BMS dengan menggunakan Hamilton’s Depression and Anxiety Scales. Hasilnya pada 51,35% pasien BMS ditemukan kelainan psikiatrik.  Lamb menemukan lebih dari 50% pasien BMS dipengaruhi oleh factor psikogenik.

(Van Der Ploeg) dkk melaporkan hasil tes psikologik pada 184 pasien BMSditemukan gejala psikologis seperti kecemasan , depresi, neurotic. Lamey dan Lamb menyatakan kecemasan merupakan keluhan khas bagi BMS dibandingkan dengan depresi. (Basker) dkk menyatakan bahwa kecemasan dan cancerphobia merupakan factor penyebab. Main dan Basker menyatakan cancerphobia dan kecemasan menyebabkan BMS pada 20% penderita.

Walaupun hubungan yang pasti sudah banyak dilaporkan tetapi tetap kurang jelas apakah factor psikopatologis merupakan penyebab keluhan pada mulut atau sebaliknya merupakan akibat dari rasa sakit yang kronis. (Grushka) dkk dalam penelitiannya menemukan bahwa tekanan psikologis lebih merupakan akibat dibandingkan sebagai penyebab.

  1. Defisiensi vitamin dan mineral

Defisiensi unsur dalam darah diperkirakan sebagai factor penyebab pada 2 % dari 57 pasien yang diteliti oleh Zegarelli. dari penelitiannya diperoleh frevalensi anemia pernisiosa (devisiensi vitamin B12) sebesar 1,8 %, sedangkan Lamey dan Lamb 8,3% dari 150 pasien. Lamey dkk menemukan defisiensi salah satu dari vitamin B1,B2,B6 atau kombinasinya pada 70 pasien BMS. Brown menyatakan bahwa defisiensi Zat besi merupakan penyebab anemia yang paling sering terjadi. Lamey menegaskan bahwa keadaan ini merupakan penyebab pada 5% dari pasien BMS yang ditelitinya sedangkan Brooke mencatat 53%. Rasa panas timbul kemungkinan karena pada pasien dengan defisiensi tersebut mengalami perubahan permeabilitas pada mukosanya, perubahan pada aliran darah atau merupakan suatu neuropati. (Basker) dkk mengemukakan bahwa defisiensi asam folat yang berperan dalam metabolism DNA dan RNA dapat menyebabkan rasa panas dalam mulut dan angular stomatitis.

(Schmitt) dkk menyatakan defisiensi dapat timbul karena diet yang kurang baik, penyerapan usus yang terganggu atau gangguan pada lambung. Defisiensi ini antara lain disebabkan oleh gasterektomi sebagian, kehamilan, perdarahan gastrointestinal akibat keganasan atau penyakit-penyakit lainnya.

  1. Diabetes Mellitus

Beberapa pengamat melaporkan prevalensi diabetes sebagai penyebab BMS tidak terlalu tinggi (sampai 5%). Ada beberapa alasan yang mendukung perkiraan bahwa diabetes menyebabkan timbulnya rasa panas dalam mulut. Kurangnya insulin pada penderita DM mengganggu proses katabolic dalam mukosa mulut sehingga menyebabkan resistensi jaringan terhadap gesekan normal menjadi berkurang. Kemungkinan lain adalah adanya xerostomoia dan infeksi candida yang merupakan keadaan yang sering menyertai pasien diabetes. (Broody) dkk menyatakan mekanisme timbulnya keluhan pada mulut merupakan neuropati yang irreversible dan perubahan pada membrane dalam pembuluh darah kecil di jaringan mulut.

  1.  Menopause

Dari hasil penelitian Massler 86 wanita dalam masa post menopause, 93% diantaranya mengeluhkan rasa panas pada mulutnya. Masa transisi hormonal ditandai dengan perubahan fisik dan emosi. Grushka menemukan bahwa wanita dengan BMS merasakan keluhan menopausalnya lebih berat daripada kelompok control. Literature masih memperdebatkan efek estrogen pada mukosa mulut.

Walaupun beberapa penelitian menemukan bahwa kadar estrogen berhubungan dengan derajat keratinisasi dan proliferasi selular gingival tetapi penelitian lain tidak menemukan hubungan yang serupa.

  1. Kelainan imunologi

Pada penderita kelainan imunologi biasanya terjadi gangguan terhadap penyerapan nutrisi sehingga terjadi defisiensi nutrisi dan menyebabkan menurunnya respon imun.

(Grushka) dkk mendapatkan bahwa 50% dari 27 pasien BMS yang dilakukan tes reumatologik,terdapat gambaran klinik penyakit yang disebabkan oleh kelainan imunologi. (Brian) dkk mendapatkan bahwa pada seorang pasien BMS ditemukan alergi terhadap ekstrak kacang.

– Cara Pemeriksaan Burning Mouth Syndrome

Di klinik sulit menemukan factor penyebab yang utama. Sebagai konsekuensinya dilakukan pengecekan terhadap factor sistemik yang berpengaruh. Lamey dan Lamb mengemukakan pentingnya menentukan langkah-langkah perawatan. Langkah-langkah ini diperlukan untuk mencari factor penyebab yang berbeda dan menemukan baik penyakit  sistemik maupun penyakit mulut yang mempunyai gambaran klinis yang mirip BMS. Pertama adalah menentukan jenis dan derajat keluhan BMSdengan menggunakan daftar pertanyaan yang khusus. Kemudian dilakukan pencarian factor local dan sistemik secara komprehensif. Sesudah melakukan perawatan sesuai dengan penyebab maka dilakukan evaluasi terhadap perawatan dengan menggunakan alat yang sama dengan langkah pertama. Pada pasien dengan BMS yang resisten dilakukan pemeriksaan psikologik dengan menggunakan tes yang berbeda. Bila diperlukan maka dilakukan psikoterapi. Akhirnya dilakukan evaluasi dari efek psikoterapi dengan menggunakan tes psikologi dan tes yang sama dengan langkah pertama.

Pada keadaan yang menghawatirkan, gejala mungkin mempengaruhi seluruh mulut atau hanya lidah yang mungkin sakit. Keluhan ini mempunyai banyak gambaran yang mirip dengan nyeri facial atipikal dan mungkin variannya

Gambaran klinis yang menunjukkan ‘burning mouth syndrome’

  • Wanita usia pertengahan atau lebih tua biasanya terkena
  • Tidak tampak abnormalitas atau bukti penyakit organic
  • Tidak ada abnormalitas hematologi
  • Nyeri biasanya dikatakan seperti ‘terbakar’
  • Nyeri persisten dan tidak hilang tanpa factor yang memperberat atau mengurangi, seringkali berbulan-bulan atau bertahun-tahun; tidak merespon analgesik
  • Pola radiasi nyeri aneh tidak sesuai dengan anatomi neurologis atau vaskuler
  • Kadang, berkaitan dengan rasa pahit atau seperti logam
  • Berkaitan dengan depresi, kecemasan atau kondisi hidup sangat berat
  • Obsesi dengan gejala yang dapat mengambil alih kehidupan pasien
  • Pencarian terus menerus untuk jaminan dan pengobatan dari berbagai dokter
  • Biasanya, perbaikan dramatis dengan pengobatan antidepresi

Gejala klinis dari Burning Mouth Syndrom

  • Sensasi terbakar pada lidah, bibir, palatum, dan tenggorokan
  • Kesemutan atau sensasi mati rasa dalam RM/ujung lidah
  • Sensasi mulut kering
  • Nyeri dalam RM semakin memburuk
  • Semakin sering merasa haus
  • Kehilangan selera makan
  • Perubahan rasa seperti  rasa pahit/rasa logam

Gejala ini tampak dengan berbagai kombinasi tapi gangguan psikologis seringkali tertutupi atau ditekan. Pada praktek, dengan nyeri facial apical, banyak pasien yang mengeluh sangat berat dan menetap dari nyeri lidah, tidak terdapat penyakit organik dan tidak merespon obat psikoaktif atau pengobatan bentuk lain.

Iklan