Klasifikasi Kennedy

sudah dikemukakan bahwa selama ini banyak sekali ragam klasifikasi yang diciptakan, dan digunakan orang. klasifikasi yang paling banyak digunakan adalah yang dibuat oleh Kennedy, clummer, dan baylin. kalsifikasi Kennedy mungkin merupakan metode yang paling banyak digunakan pada saat sekarang ini. suatu klasifikasihendaknya memenuhi persyaratan-persyaratan yaitu menunjukan dengan jelas dan cepat jenis-jenis keadaan tidak bergigi memungkinkan perbedaan antara geligi tiruan sebagian lepasan yang didukung gigi atau yang didukung gigi dan jaringan bukan gigi dan dapat menjadi petunjuk pembuatan desain geligi tiruan serta klasifikasi ini dapat diterima secara luas. klasifikasi ini membagi semua keadaan tak bergigi menjadi empat macam keadaan.

  • Klas I Kennedy: daerah tidak bergigi di bagian posterior dari gigi masih ada dan berada pada kedua sisi rahang (bilateral)
  • Klas II Kennedy : daerah tak bergigi terletak di bagian posterior dari gigi yang masih ada, tetapi berada hanya pada salah satu sisi saja (unilateral)
  • Klas III Kennedy : daerah yang tak bergigi terletak di antera gigi-gigi yang masih ada di bagian posterior maupun anteriornya unilateral.
  • kelas IV daerah tak bergigi terletak pada bagian anterior dan gigi yang masih dan melewati garis median (tengah)

Klasifikasi Apllegated Kennedy

Klasifikasi applegated kennedy adalah suatu pengembangan dari klasifikasi kennedy yang telah di pakai selama bertahun-tahun oleh para tenaga kesehatan kususnya dokter gigi. Mengapa klasifikasi kennedy dirubah? Karena Applegate mengganggap perlu mengadakan perubahan-perubahan tertentu demi perbaikan. Hal ini dimaksudkan semata-mata untuk lebih mendekatkan prosedur klinis dengan pembuatan desain dengan klasifikasi yang dipakai.

Sebenarnya keadaan tidak bergigi yang serupa, mungkin saja membutuhkan perawatan prostodontik yang berbeda, karena hal ini tergantung pula dari kondisi jaringan yang belum tentu sama. Karena itu, sangat masuk akal, bila dalam penerapan klasifikasi dipertimbangkan hal-hal lain yang lebih hakiki daripada sekedar melihat ruang kosong yang ditinggalkan gigi.

Sejauh ini, pertimbangan-pertimbangan yang diberikan kepada keadaan-keadaan gigi dan jaringan pendukungnya tidak memadai, karena penekanan lebih banyak diberikan kepada ruang-ruang kosong yang sudah ditinggalkan gigi. Atas dasar pemikiran inilah, Applegate kemudian memperbaiki Klasifikasi Kennedy yang kemudian dikenal sebagai Klasifikasi Applegate-Kennedy. Applegate membagi rahang yang sudah kehilangan sebagian giginya menjadi 6 kelas dengan rincian sebagai berikut:

–          Kelas I

Daerah yang tidak bergigi sama dengan klasifikasi Kennedy. Keadaan ini sering dijumpai pada rahang bawah dan biasanya telah beberapa tahun kehilangan gigi. Secara klinis dijumpai :

  1. Derajat resorpsi residual ridge bervariasi.
  2. Tenggang waktu pasien tidak bergigi akan mempengaruhi stabilitas gigi tiruan
    yang akan dipasang.
  3. Jarak antar lengkung rahang bagian posterior biasanya sudah mengecil.
  4. Gigi asli yang masih tinggal sudah migrasi ke dalam berbagai posisi.
  5. Gigi antagonis sudah ekstrusi dalam berbagai derajat.
  6. Jumlah gigi yang masih tertinggal bagian anterior umumnya sekitar 6-10 gigi saja.
  7. Ada kemungkinan dijumpai kelainan Sendi Temporo Mandibula.

Indikasi Pelayanan Prostodontik Kelas I : Gigi tiruan sebagian lepasan dengan desain bilateral dan perluasan basis distal.

–          Kelas II

Daerah tidak bergigi sama dengan kelas II Kennedy. Kelas ini sering tidak diperhatikan pasien. Secara klinis dijumpai keadaan :

  1. Resorbsi tulang alveolar terlibat lebih banyak.
  2. Gigi antagonis relatif lebih ekstrusi dan tidak teratur.
  3. Ekstrusi menyebabkan rumitnya pembuatan restorasi pada gigi antagonis ini.
  4. Pada kasus ekstrim, karena tertundanya pembuatan gigi tiruan (protesa) untuk Jangka waktu lama, kadang-kadang perlu pencabutan satu atau lebih gigi antagonis. Karena pengunyahan satu sisi, sering dijumpai kelainan Sendi Temporo Mandibula.

Indikasi Pelayanan Prostodontik Kelas II : Gigi tiruan sebagian lepasan disain bilateral perluasan basis distal.

–          Kelas III

Keadaan tidak bergigi paradental dengan kedua gigi tetangga, tidak lagi mampu memberi dukungan kepada gigi tiruan (protesa) secara keseluruhan. Secara klinis dijumpai keadaan :

  1. Daerah tidak bergigi sudah panjang.
  2. Bentuk dan panjang akar gigi kurang memadai.
  3. Tulang pendukung mengalami resorpsi servikal dan atau disertai goyangnya gigi
    secara berlebihan.
  4. Beban oklusal berlebihan.

Indikasi Pelayanan Prostodontik Kelas III : Gigi tiruan sebagian lepasan dukungan gigi dengan desain bilateral.

–          Kelas IV

Daerah tidak bergigi sama dengan klas IV Kennedy. Pada umumnya untuk klas ini dapat dibuat gigi tiruan sebagian lepasan, bila :

  1. Tulang alveolar sudah banyak hilang, seperti pada kasus akibat trauma.
  2. Gigi harus disusun dengan “overjet” besar, sehingga dibutuhkan banyak gigi
    pendukung.
  3. Dibutuhkan distribusi merata melalui lebih banyak gigi penahan, pada pasien
    dengan daya kunyah besar.
  4. Diperlukan dukungan dan retensi tambahan dari gigi penahan.
  5. Mulut pasien depresif, sehingga perlu penebalan sayap untuk memenuhi faktor
    estetik.

Indikasi pelayanan Prostodontik Kelas IV :

  • Geligi tiruan cekat, bila gigi gigi tetangga masih kuat.
  • Geligi tiruan sebagian lepasan dengan desain bilateral dan dukungan gigi atau

jaringan atau kombinasi.

  • Pada kasus meragukan, sebaiknya dibuat Gigi Tiruan Sebagian Lepasan.

–          Kelas V

Daerah tak bergigi paradental, dimana gigi asli anterior tidak dapat dipakai sebagai gigi penahan atau tak mampu menahan daya kunyah. Kasus seperti ini banyak dijumpai pada rahang atas, karena gigi caninus yang dicabut karena malposisi atau terjadinya kecelakaan.

Gigi bagian anterior kurang disukai sebagai gigi penahan, biasanya karena salah satu alasan berikut ini :

  1. Daerah tak bergigi sangat panjang.
  2. Daya kunyah pasien berlebihan.
  3. Bentuk atau panjang akar gigi penahan kurang memadai.
  4. Tulang pendukung lemah.
  5. Penguatan dengan splin tidak diharapkan, dan sekalipun dilakukan tetap tidak memberikan dukungan yang  memadai, tetapi tetap dirasakan perlunya mempertahankan geligi yang masih tinggal ini.

Indikasi Pelayanan Prostodontik Kelas V : Geligi tiruan sebagian lepasan dengan desain bilateral dan prinsip basis berujung bebas tetapi di bagian anterior.

–          Kelas VI

Daerah tak bergigi paradental dengan ke dua gigi tetangga gigi asli dapat dipakai sebagai gigi penahan. Kasus seperti ini sering kali merupakan daerah tak bergigi yang terjadi pertama kalinya dalam mulut. Biasanya dijumpai keadaan klinis :

  1. Daerah tak bergigi yang pendek.
  2. Bentuk atau panjang akar gigi tetangga memadai sebagai pendukung penuh.
  3. Sisa prosesus alveolaris memadai.
  4. Daya kunyah pasien tidak besar.

Indikasi Pelayanan Prostodontik Kelas VI :

  •  Geligi tiruan cekat.
  • Geligi tiruan sebagian lepasan dukungan gigi dan desain unilateral (protesa sadel).

Dalam Pemilihan geligi tiruan lepasan dalam hal ini didasarkan pada :

  • Usia pasien masih muda.
  • Mencegah ekstrusi gigi antagonis.
  • Pulpa gigi masih lebar.
  •  Kesehatan pasien tidak memungkinkan dilakukannya preparasi segera.
  • Kendala waktu untuk pembuatan gigi tiruan cekat.
  •   Pasien menolak pembuatan geligi tiruan cekat.
  •   Keadaan sosial ekonomi pasien tak menunjang.

Selain ke enam kelas tersebut di atas, Klasifikasi Aplegate-Kennedy mengenal juga modifikasi untuk daerah tak bergigi tambahan :

  •  Bila tambahan ini terletak di anterior, maka disebut kelas…. modifikasi A.
  • Pada penambahan yang terletak di posterior, sebutan menjadi kelas… modifikasi P.
  •  Untuk penambahan ruangan yang lebih dari satu, dimuka huruf petunjuk modifikasi diberi tambahan angka Arab sesuai jumlahnya.

Contoh : Kelas II Modifikasi 2A (atau 1P atau 2A & 3P dan seterusnya).

Iklan